Di Puncak Dunia, di Dasar Rindu: Takbir Malam 1 Syawal Tanpa Orang Tua

Harun Ahmad
(Dosen Universitas IBU Malang)

*Malam itu, langit seperti ditopang oleh gema takbir yang tak henti-hentinya. Dari masjid ke rumah-rumah, dari pengeras suara ke relung hati, kalimat Allahu Akbar bergulung seperti ombak yang menghempas kesadaran: bahwa ada yang Maha Besar, dan ada yang selama ini kita besarkan secara keliru.

Namun di antara gemuruh itu, ada satu sunyi yang tak terdengar oleh dunia: sunyi seseorang yang berdiri di puncak hidupnya—dengan harta yang melimpah, jabatan yang tinggi, dan segala kemewahan yang dulu ia kejar—tetapi tiba-tiba merasa runtuh, karena satu hal yang tak bisa dibeli kembali: kehadiran orang tua.

Di malam takbiran 1 Syawal, banyak orang pulang. Jalanan penuh, terminal sesak, bandara riuh oleh perjumpaan. Kata “pulang” menjadi mantra yang diulang-ulang, seakan-akan dunia sedang bergerak menuju satu titik yang sama: rumah. Tetapi tidak semua orang benar-benar pulang. Sebagian hanya kembali ke bangunan, bukan ke pelukan. Sebagian hanya sampai pada alamat, bukan pada asal.

Sebab “rumah” sejatinya bukan dinding dan atap. Ia adalah suara yang memanggil nama kita dengan cara yang tak pernah bisa ditiru oleh siapa pun. Ia adalah tangan yang mengusap kepala tanpa syarat. Ia adalah doa yang diam-diam menguatkan kita bahkan ketika kita merasa sudah cukup kuat tanpa siapa pun.

Dan sering kali, kita baru menyadari semua itu ketika semuanya telah tiada.

Di siang hari, kita mungkin adalah seseorang yang disegani. Gelar berderet di belakang nama. Orang-orang berdiri ketika kita datang. Keputusan kita menentukan arah hidup banyak orang. Kita terbiasa dihormati, bahkan ditakuti. Dunia memberi kita tempat yang tinggi—begitu tinggi hingga kita lupa menoleh ke bawah, ke tempat pertama kali kita belajar berdiri.

Namun malam takbiran memiliki caranya sendiri untuk meruntuhkan segala kepalsuan itu.

Ketika takbir menggema, ia bukan hanya memuliakan Tuhan. Ia juga, diam-diam, membongkar ilusi kita tentang makna hidup. Ia bertanya dengan cara yang tak bersuara: untuk apa semua yang kau kumpulkan itu, jika pada malam kemenangan ini, tak ada lagi yang memanggilmu “nak” dengan suara yang bergetar oleh cinta?

Betapa banyak dari kita yang dahulu berjanji akan “membahagiakan orang tua” setelah berhasil. Kita menunda kepulangan, menunda percakapan, menunda pelukan—dengan alasan sedang membangun masa depan. Kita percaya bahwa waktu selalu tersedia. Bahwa orang tua akan selalu ada, menunggu, seperti halaman rumah yang tak pernah berpindah.

Namun waktu tidak pernah berjanji untuk setia.

Dan ketika akhirnya kita kembali—dengan segala keberhasilan yang dulu kita banggakan—kita mendapati bahwa rumah itu masih berdiri, tetapi tidak lagi bernyawa. Kursi itu masih ada, tetapi kosong. Suara itu telah hilang, digantikan oleh keheningan yang tak bisa diajak berbicara.

Pada saat itulah, kita memahami sesuatu yang terlambat: bahwa tidak ada satu pun kemewahan yang bisa menebus satu detik kebersamaan yang telah lewat.

Malam takbiran berubah menjadi cermin. Ia memantulkan wajah kita yang sebenarnya—bukan sebagai pejabat, bukan sebagai pengusaha, bukan sebagai siapa pun yang dunia kenal—tetapi sebagai seorang anak yang pernah, dan akan selalu, merindukan orang tuanya.

Dan rindu itu tidak mengenal jabatan.

Ia datang dengan cara yang sederhana: melalui aroma masakan yang tak lagi sama, melalui suara takbir yang mengingatkan pada masa kecil, melalui kebiasaan-kebiasaan kecil yang dulu kita anggap biasa saja. Tiba-tiba, semua itu menjadi begitu berharga—bukan karena nilainya, tetapi karena ia tak lagi bisa diulang.

Di titik ini, takbir menjadi lebih dari sekadar seruan kemenangan. Ia berubah menjadi panggilan pulang—bukan ke rumah fisik, tetapi ke kesadaran yang lebih dalam: bahwa makna hidup tidak pernah benar-benar terletak pada apa yang kita miliki, melainkan pada siapa yang kita miliki, dan siapa yang kita sempat bahagiakan.

Orang tua adalah pusat dari makna itu.

Mereka mungkin tidak pernah memahami sepenuhnya dunia yang kita bangun. Mereka mungkin tidak mengerti istilah-istilah besar yang kita gunakan. Tetapi mereka memahami satu hal yang sering kita lupakan: bahwa kehadiran lebih berharga daripada pencapaian.

Mereka tidak membutuhkan kita menjadi siapa-siapa di mata dunia. Mereka hanya ingin kita tetap menjadi “anak” di hadapan mereka.

Namun, dunia sering kali mengajarkan sebaliknya. Ia mendorong kita untuk terus naik, terus mengejar, terus membuktikan—hingga tanpa sadar, kita menjauh dari satu-satunya tempat di mana kita tidak perlu membuktikan apa pun.

Dan ketika kita akhirnya lelah, kita baru menyadari bahwa tempat itu sudah tidak lagi menunggu.

Malam 1 Syawal adalah malam kemenangan, kata banyak orang. Tetapi kemenangan seperti apa yang kita rayakan, jika di dalam hati, kita justru kalah oleh penyesalan?

Takbir menggema, tetapi dada terasa sesak. Lampu-lampu menyala, tetapi hati terasa gelap. Orang-orang saling memaafkan, tetapi ada satu hal yang tak bisa kita minta maafkan lagi: waktu yang telah kita abaikan.

Di situlah letak pukulan terdalam dari malam ini.

Ia tidak hanya mengingatkan kita tentang kebesaran Tuhan, tetapi juga tentang kecilnya kita sebagai manusia—yang sering kali terlambat mencintai dengan cara yang benar.

Namun, selama masih ada waktu, selalu ada jalan untuk kembali.

Bagi mereka yang masih memiliki orang tua, malam takbiran adalah kesempatan untuk berhenti sejenak dari segala ambisi, lalu duduk di samping mereka, mendengarkan cerita yang mungkin sudah pernah kita dengar berulang kali, tetapi kini terasa berbeda. Sebab kita tahu, suatu hari nanti, cerita itu akan menjadi satu-satunya hal yang tersisa.

Dan bagi mereka yang orang tuanya telah tiada, malam ini adalah ruang untuk mendoakan—dengan kerendahan hati yang mungkin dulu tidak kita miliki. Sebab pada akhirnya, doa adalah satu-satunya cara kita untuk tetap terhubung dengan cinta yang tidak lagi berwujud.

Di puncak dunia, kita mungkin memiliki segalanya.

Tetapi di dasar rindu, kita belajar satu hal yang tak terbantahkan: bahwa tanpa orang tua, semua itu kehilangan maknanya.

Dan ketika takbir kembali menggema di malam Syawal, ia tidak lagi sekadar terdengar sebagai seruan kemenangan. Ia menjelma menjadi bisikan yang lembut namun mengguncang:
bahwa yang paling berharga dalam hidup ini bukanlah apa yang berhasil kita kumpulkan,
melainkan siapa yang sempat kita pulangkan ke dalam hati— sebelum semuanya benar-benar pergi.

Bumi Arema, Ujung Ramadhan 1447