Oleh: Mutalib Ibrahim
Tahun 2024 menjadi tahun yang sibuk bagi masyarakat Halmahera Tengah (Halteng) dengan adanya Pilkada serentak yang memanaskan suhu politik lokal.
Pemuda-pemuda yang biasanya berada di garis depan perubahan sosial, kini sebagian besar terlihat aktif dalam politik praktis, terlibat dalam kampanye dan dukungan terhadap kandidat tertentu.
Hiruk pikuk pesta demokrasi ini menjadi magnet bagi banyak pemuda yang terpikat oleh gemerlapnya dunia politik, berharap dapat memainkan peran strategis dalam pemerintahan masa depan.
Namun, di balik gegap gempita politik praktis tersebut, tidak semua pemuda terlibat secara langsung dalam kontestasi politik. Di Kota Weda, pusat Kabupaten Halmahera Tengah, muncul sejumlah pemuda yang justru mengambil arah berbeda.
Mereka memilih jalur gerakan literasi sebagai bentuk kontribusi mereka kepada masyarakat. Berbeda dari teman-teman sebaya yang sibuk dalam urusan politik, pemuda-pemuda ini hadir dengan gerakan literasi, sebuah upaya memperjuangkan pendidikan dan kesadaran kritis di tengah hiruk pikuk politik.
Gerakan literasi yang digerakkan oleh pemuda-pemuda ini bukanlah hal baru di Halteng, tetapi kehadirannya di tengah momentum politik yang memanas memberikan kontras yang signifikan.
Ketika perhatian publik terfokus pada Pilkada, mereka melihat celah untuk tetap berperan aktif dalam mengubah masyarakat, namun melalui jalur yang lebih sunyi dan mendalam.
Mereka memahami bahwa partisipasi dalam perubahan sosial tidak selalu harus dilakukan melalui politik praktis; ada ruang-ruang lain yang juga penting, dan literasi adalah salah satunya.
Gerakan literasi yang mereka jalankan hadir dalam berbagai bentuk. Salah satu yang paling signifikan adalah perpustakaan keliling, yang memberikan akses buku dan bahan bacaan kepada masyarakat di daerah-daerah terpencil.
Ini adalah bentuk nyata dari perlawanan damai mereka terhadap masalah mendasar di Halteng: rendahnya akses terhadap pendidikan. Melalui gerakan ini, mereka berusaha memutus siklus ketertinggalan literasi yang sering kali menghambat kemajuan masyarakat.
Selain perpustakaan keliling, para pemuda ini juga menyelenggarakan berbagai kegiatan diskusi buku, pelatihan menulis, dan lokakarya jurnalistik yang dirancang untuk mendorong kemampuan berpikir kritis dan kreatif.
Di tengah derasnya arus informasi yang kadang menyesatkan, mereka mempersiapkan generasi muda Halteng untuk tidak hanya menjadi konsumen informasi, tetapi juga sebagai pengolah dan pencipta informasi yang bermanfaat.
Tantangan utama yang mereka hadapi adalah bagaimana menarik perhatian masyarakat di tengah suasana politik yang mendominasi perbincangan publik. Tidak mudah untuk mengajak masyarakat, terutama generasi muda, memikirkan isu literasi ketika sebagian besar energi dan perhatian terserap oleh dinamika politik. Namun, di sinilah kreativitas pemuda-pemuda ini diuji.
Mereka tidak hanya mengandalkan metode tradisional seperti kampanye literasi melalui buku, tetapi juga menggunakan media sosial dan acara-acara kreatif di ruang publik untuk mempromosikan gerakan mereka.
Yang menarik, gerakan literasi ini juga banyak mengusung tema lokal. Mereka berusaha melestarikan budaya dan sejarah Halteng melalui tulisan-tulisan yang terinspirasi dari kearifan lokal. Dengan demikian, literasi di sini bukan hanya soal kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga menjadi alat untuk memperkuat identitas budaya dan menciptakan kebanggaan akan asal-usul mereka.
Dalam konteks yang lebih luas, gerakan literasi ini bisa dilihat sebagai upaya untuk menghadapi tantangan globalisasi yang sering kali mengikis nilai-nilai lokal.
Di tengah arus informasi yang cepat dan tak selalu dapat diandalkan, literasi menjadi benteng yang melindungi masyarakat dari pengaruh negatif informasi yang tidak terverifikasi. Pemuda-pemuda ini memahami bahwa masa depan Halteng tidak hanya ditentukan oleh hasil Pilkada, tetapi juga oleh tingkat literasi dan kesadaran kritis warganya.
Pada akhirnya, meskipun perhatian masyarakat terpecah oleh hiruk pikuk politik, gerakan literasi ini memberikan harapan bahwa masih ada ruang untuk perubahan positif yang tidak melulu berpusat pada kekuasaan politik.
Di sela-sela gemuruh politik praktis, pemuda di Kota Weda dengan gerakan literasinya memberikan pesan penting: bahwa pengetahuan adalah kekuatan yang lebih abadi dan mendalam. Literasi menawarkan jalan untuk menciptakan masyarakat yang lebih kritis, kreatif, dan mandiri, yang mampu menghadapi tantangan global dengan akar budaya yang kuat.
Gerakan ini membuktikan bahwa tidak semua perubahan harus dimulai dari panggung politik; literasi bisa menjadi fondasi untuk membangun masa depan yang lebih cerah, lebih beradab, dan lebih inklusif. Di tengah kebisingan politik, pemuda Halteng yang memilih jalur literasi menunjukkan bahwa ada cara lain untuk berkontribusi, dengan langkah-langkah kecil namun konsisten untuk menciptakan masa depan yang lebih baik.**