PUASA MENGINGATKAN KITA UNTUK PULANG

By, Muhd Nur SANGADJI

Koridorindonesia.id– Dua hari lagi, bulan ramadhan ini akan pulang. Dia yang pergi. Bukan kita. Kalau selama ini, dia ada, kita tidak atau kurang perduli. Berarti, kita yang pergi. Kita yang menjauh. Kini, dia benar-benar akan pergi menjauh. Berjarak sebelas bulan lamanya. Kita juga tidak bisa pastikan. Bila nanti, dia datang lagi. Apakah kita masih berjumpanya atau tidak ?

Kemarin hari, sahabat pulang. Berpulang meninggalkan dunia. Tepat di ujung Ramadhan. Di hari-hari akhir puasa. Pastilah beliau tidak akan berjumpa lagi dengan siklus kedatangan ramadhan berikutnya. Semogalah kepulangannya menyertai barokah.

Satu waktu, akan tiba giliran kita. Entah kapan ? Tak ada yang bisa pastikan. Tidak bisa. Sebab, itu urusan Allah. Beliau bertitah ; “apabila hamba ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang ruh. Bilang pada mereka, itu urusan Tuhan ku. Kamu tidak diberikan ilmu pengetahuan kecuali cuma sedikit”.

*******
Nah, disinilah perbedaan itu diletakkan. Ilmu pengetahuan umum dan ilmu pengetahuan agama. Ilmu pengetahuan umum hanya membedakan dua hal. Tapi agama menambahkannya menjadi tiga. Dalam ilmu pengetahuan : 1). sesuatu yang telah diketahui hari ini, boleh jadi hari kemarin belum diketahui. 2). Sedangkan, sesuatu yang belum diketahui hari ini, boleh mungkin, hari esok akan diketahui. Ilmu pengetahuan hanya sampai disitu. Tapi, agama menambahkan satu lagi. 3). Yaitu, sesuatu yang tidak akan diketahui selamanya.

Salah satunya tentang ruh yang akan pulang meninggalkan jasadnya. Bila ada orang tertentu, seolah mengetahui, kapan dia akan mati. Sesungguhnya itu pengecualian yang luar biasa dan langka. Karena itu, dibagian yang lain, kita diminta untuk berfikir tentang ciptaanNya. Jangan berfikir tentang zat Ilahi.

Di ujung Ramadhan ini pun, kita disibukkan dengan tradisi pulang. Pulang kampung untuk jumpa orang tua dan sanak famili. Tradisi yang sangat mulia untuk sambungkan tali kasih sayang yang renggang atau terputus selama berbulan atau bertahun lamanya. Sayang, biaya untuk ini mahal sekali. Transportasi sebagai contoh. Padahal, untuk pulang itu, mereka harus siapkan bekal untuk berbagi bersama sanak famili dan kerabat. Dunia kebijakan publik tidak berfihak di sisi ini.

*******
Saya merenung, mengapa harga tranportasi begitu tinggi..? Relasi suku cadang apa yang berubah..? Avtur tidak naik harga. Komponen lain pun tidak naik. Satu satunya alasan adalah teori ekonomi Adam Smith. Dia yang bilang, permintaan tinggi akan menaikkan harga. Ini logika apa..? Bagi ku, logika kerakusan yang pas untuk menjelaskannya.

Tapi, mengapa di akhir waktu seperti ini. Atau, jelang Idul Fitri, natal dan Tahun Baru, banyak toko yang memberikan diskon..? Bilanglah, teori Adam Smith masih berlaku di sini. Stok masih banyak. Bahkan, ada yang cuci gudang. Lantas, bagaimana dengan pengalaman di bumi atau negeri yang lain ?

Di saat liburan musim panas atau dingin. Harga tiket pesawat malah turun .? Padahal, pada saat itu, permintaannya tinggi sekali. Saya kasih contoh kongkrit pada diri sendiri supaya akurat datanya. Hampir empat tahun tinggal di Eropa. Saya sangat sering pulang ke tanah air memanfaatkan diskon tiket pesawat yang murahnya melebihi harga tiket dalam negeri. Dari kota Lyon – Frankfurt – Jakarta. Lebih murah dari Jakarta – Palu. Pesawatnya, macam-macam. Lufthansa Jerman, KLM Belanda atau Uni Emirat.

*******
Kita akan bilang, kita punya kebijakan harga. Namanya ; Floor and Ceiling Price. Tapi rasanya, tdk pernah kita menikmati harga dasar (floor price) itu. Karena tabiat manusia bukan saja tidak mau rugi. Mereka akan mencari keuntungan sebesar-besarnya. Maka, di sinilah pemerintah harus hadir, agar kita bangga punya negara. Ingat pak Harto..? Harmoko umumkan harga cabe 1000 Rp per kilogram. Seluruh Indonesia patuh. Sekarang..?

Bayangkan, adik saya yang jurnalis menulis di medianya ; “lebih baik pergi Umrah dari pada pulang ke Ternate”. Itu lantaran, pulang Ternate dari kota Palu, butuh 16 juta pergi pulang. Kita juga pasti belum lupa, tiket Jakarta ke Medan mahalnya berkali lipat dibandingkan Jakarta-Malaysia-Medan.

Lalu, apa yang mau kita bilang lagi…? Masihkah kita berniat pulang…? Kalau iya, persiapan harus matang. Itu baru di dunia. Apalagi pulang ke akhirat. Bekalnya harus lebih istimewa. Ternyata, bekalnya adalah “takwah”. Dan, takwa itulah tujuan hakiki dari perintah Puasa ramadhan ini. Wallahu a’lam bi syawab.***