Strategi Alami Mengatasi Kenakalan Remaja

Potret Remaja di Ternate Memilih Menyalurkan Hobi di Salah Satu Objek Wisata

Oleh: Diah Ayesha Fitraini
(Mahasiswi Komunikasi dan Penyiaran Islam IAIN Ternate)

    –Ditengah hiruk pikuk isu kriminalitas yang melanda kota-kota besar Indonesia, Kota Ternate tampil dengan wajah berbeda. Anak-anak muda di Kota Rempah ini sibuk dengan aktivitas positif seperti mendaki Gunung Gamalama, berenang di Pantai Jikomalamo, lari pagi, atau sekadar nongkrong di kafe. Fenomena ini bukan kebetulan, melainkan bukti nyata bagaimana aktivitas di alam terbuka menjadi pencegah kenakalan remaja.

Bayangkan seorang remaja yang sedang stres karena tekanan akademik atau masalah pergaulan. Di kota besar, energi negatif ini sering tersalurkan ke hal-hal destruktif. Namun di Ternate, energi yang sama tersalurkan ke pendakian Gunung Gamalama yang menantang atau berenang di pantai yang menenangkan.

Secara ilmiah, ini bukan sekadar kebetulan. Penelitian Laksmi dan Jayanti (2023) menemukan hubungan signifikan antara aktivitas fisik dengan kesehatan mental pada remaja. Saat berolahraga, tubuh melepaskan endorfin yang bekerja seperti antidepresan alami, meningkatkan mood dan mengurangi kecemasan. Penelitian Maidah (2021) di Universitas Sumatera Utara juga mengkonfirmasi adanya hubungan positif bermakna antara aktivitas fisik dengan kesehatan mental remaja.

Lebih dari itu, aktivitas outdoor memiliki efek menenangkan yang unik. Penelitian White (2019) dalam Scientific Reports menemukan bahwa menghabiskan setidaknya 120 menit per minggu di alam bisa berdampak posiitif untuk kesehatan dan kesejahteraan. Alam memberikan istirahat mental, membantu remaja melepaskan diri dari tekanan sehari-hari.

Ketika anak muda Ternate mendaki Gunung Gamalama bersama teman-teman, mereka belajar nilai-nilai penting yaitu kerjasama tim, disiplin, dan tanggung jawab. Nilai-nilai ini membentuk karakter kuat yang menjadi benteng alami terhadap godaan perilaku menyimpang.

Penelitian dari University of South Australia (2023) yang dipublikasikan di British Journal of Sports Medicine menemukan bahwa aktivitas fisik 1,5 kali lebih efektif daripada obat-obatan dalam mengelola depresi. Intervensi olahraga selama 12 minggu atau lebih pendek paling efektif dalam mengurangi gejala kesehatan mental.

Studi dari Universitas Indonesia (2023) mengungkapkan bahwa individu yang rutin melakukan aktivitas fisik 150 menit per minggu mengalami penurunan gejala depresi hingga 45 persen. Data ini menegaskan bahwa olahraga bukan sekadar gaya hidup sehat, melainkan bentuk terapi preventif terhadap gangguan mental. Yang tak kalah penting, aktivitas outdoor membangun jejaring sosial yang sehat. Kegiatan olahraga yang dilakukan dalam kelompok memperkuat relasi sosial, menumbuhkan rasa kebersamaan, dan mengurangi kesepian faktor penting dalam mencegah kenakalan remaja.

Data Polres Ternate mencatat 214 kasus tindak pidana konvensional pada 2023, naik 13 persen dari 189 kasus di 2022. Meski ada kenaikan, angka ini tetap relatif kecil. Kepala Kejari Ternate, Abdullah (2023), menyatakan bahwa kejahatan di Ternate tidak terlalu banyak dibandingkan daerah lain, dengan tren yang cenderung menurun.

Bandingkan dengan kondisi nasional yang mencatat 584.991 kejadian kejahatan pada 2023, lonjakan 144 persen dari 239.481 kasus di 2021. Metro Jaya mencatat 87.426 kasus dengan tingkat penyelesaian hanya 12,6 persen. Indonesia bahkan duduk di urutan kedua ASEAN dengan skor kriminalitas 6,85 pada 2024. Paling mencolok ialah fenomena begal jalanan atau anak muda yang menjadi pemulung. Pemandangan jamak di kota besar ini hampir tidak terlihat di Kota Ternate. Anak muda disana punya pilihan: lebih baik menyalurkan energi ke aktivitas yang membangun, bukan destruktif.

Kombinasi unik antara ketersediaan ruang alam dan budaya aktif anak muda menjadi kunci. Gunung Gamalama, Pantai Jikomalamo, dan ruang publik lainnya adalah “laboratorium kehidupan” tempat anak muda belajar mengelola emosi dan membangun karakter.

Penelitian Mygind (2019) dalam Health & Place menemukan bahwa pengalaman imersif di alam memberikan manfaat kesehatan komprehensif untuk anak dan remaja, termasuk peningkatan kesehatan mental, kebugaran fisik, dan keterampilan sosial.

Aktivitas alam juga memberikan dampak fisik terukur. Berada di alam mengurangi kadar kortisol, ketegangan otot, detak jantung, dan tekanan darah. Penelitian Nguyen et al. (2023) dalam The Lancet Planetary Health menemukan bahwa “resep alam” memberikan manfaat signifikan untuk kesehatan mental dan fisik.

Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2023 mencatat 14,3 persen penduduk Indonesia berusia diatas 15 tahun mengalami gangguan mental emosional. Namun menurut Kementerian Kesehatan (2024), hanya 35 persen penduduk dewasa yang memenuhi standar aktivitas fisik WHO.

Ternate menawarkan solusi sederhana namun revolusioner: berikan anak muda akses ke alam dan aktivitas positif. Penelitian UNODC (2020) menganalisis data dari 11 negara dan menemukan bahwa program berbasis olahraga efektif untuk pencegahan kenakalan dan kejahatan remaja.

Kota-kota besar perlu belajar dari Ternate. Investasi pada fasilitas olahraga, ruang publik yang ramah, dan komunitas aktif lebih efektif mencegah kejahatan dibanding hanya menambah CCTV atau aparat. Penelitian Universitas Negeri Jakarta (2023) menunjukkan siswa yang mengikuti program olahraga terstruktur di sekolah memiliki kecenderungan 60 persen lebih besar mempertahankan gaya hidup aktif hingga dewasa.

Ternate membuktikan bahwa kadang, yang dibutuhkan untuk menyelamatkan generasi muda bukan penjara atau hukuman berat, melainkan sebuah gunung untuk didaki, pantai untuk dijelajahi, dan komunitas yang mendukung. Ketika energi remaja tersalurkan ke hal positif, kriminalitas kehilangan tempat untuk tumbuh.***