Jumat, Agustus 28, 2026
spot_img
Beranda Headline Melampaui Label “UIN”: Refleksi Kritis atas Jiwa dan Identitas UIN Sultan Baabullah

Melampaui Label “UIN”: Refleksi Kritis atas Jiwa dan Identitas UIN Sultan Baabullah

0
17
Dr. Harun H. Ahmad, M.Pd

Tanggapan Kritis atas Tulisan Saudara Dr. Kasman H. Ahmad, M.Pd.
(Oleh: Dr. Harun H. Ahmad, M.Pd)

Tulisan Dr. Kasman H. Ahmad adalah sebuah narasi optimisme yang elegan. Ia merajut benang sejarah 60 tahun IAIN Ternate menjadi sebuah taplak meja perayaan menuju status Universitas Islam Negeri (UIN). Namun, di balik euforia perubahan nama dan perluasan mandat akademik, tersembunyi pertanyaan filosofis yang mendesak: Apakah transformasi ini hanyalah pergantian kulit administratif, ataukah ia benar-benar merupakan metamorfosis ontologis dari cara kita memahami ilmu dan kemanusiaan?

Pertama, mari kita bedah konsep “Integrasi Ilmu” yang disinggung melalui lensa Syed Muhammad Naquib al-Attas. Al-Attas berbicara tentang adab dan penyatuan kembali pengetahuan yang tercerai-berai. Namun, tantangan terbesar bagi UIN Sultan Baabullah nanti bukanlah sekadar membuka prodi Teknik Pertambangan atau Kesehatan karena “tuntutan pasar” atau instruksi Menteri Agama. Bahayanya adalah terjebak dalam instrumentalisasi pendidikan, di mana ilmu agama hanya menjadi “bumbu penyedap” moral bagi sains yang sekuler, bukan sebagai fondasi epistemologi yang utuh. Jika integrasi hanya bersifat kurikuler (menambah mata kuliah umum di kampus agama), maka kita gagal melakukan integrasi hakiki. UIN Sultan Baabullah harus berani menawarkan epistemologi baru: bagaimana ayat-ayat kauniyah (alam semesta) di bumi Maluku Utara dibaca dengan kacamata tauhid, bukan sekadar dieksploitasi demi nikel.

Kedua, penamaan “Sultan Baabullah” adalah pilihan simbolis yang sarat beban filosofis. Sultan Baabullah adalah simbol kedaulatan dan perlawanan terhadap kolonialisme. Namun, dalam konteks kekinian, siapa “kolonial” yang harus dilawan? Apakah masih penjajah asing? Ataukah kemiskinan struktural, kebodohan, dan kerusakan lingkungan yang justru sering kali diperparah oleh eksploitasi sumber daya alam tanpa etika? Mengusung nama Baabullah berarti UIN ini harus memiliki roh keberanian intelektual. Ia tidak boleh menjadi menara gading yang steril, melainkan benteng kritik sosial yang menjaga martabat manusia Maluku Utara agar tidak (menjadi) objek ekonomi global semata. Jika UIN ini hanya mencetak teknokrat yang patuh pada industri ekstraktif tanpa kesadaran ekologis-teologis, maka ia telah mengkhianati semangat Sultan Baabullah.

Ketiga, tulisan ini menyoroti posisi geografis Maluku Utara sebagai keunggulan komparatif. Ini benar, tetapi secara filosofis, kita harus waspada terhadap jebakan determinisme geografis. Menjadi “pusat riset kepulauan” bukan berarti kita hanya sibuk mengurus laut dan rempah. Tantangan sesungguhnya adalah bagaimana mentransformasi lokalitas menjadi universalitas. Bagaimana kearifan lokal Moloku Kie Raha (empat gunung bersaudara) dapat ditawarkan sebagai model resolusi konflik global? Bagaimana filosofi hidup masyarakat adat Ternate dapat menjadi jawaban atas krisis iklim dunia? UIN Sultan Baabullah harus mampu menerjemahkan “yang lokal” menjadi “yang universal”, sehingga ia tidak hanya relevan bagi Sofifi, tetapi juga bermakna bagi peradaban manusia secara luas.

Keempat, ada ketegangan antara tradisi dan modernitas yang perlu dijembatani dengan hati-hati. Dr. Kasman menyebut Burton R. Clark tentang universitas sebagai agen perubahan. Namun, perubahan apa yang dimaksud? Apakah perubahan menuju efisiensi neoliberal, atau perubahan menuju pembebasan manusia dari belenggu ketidaktahuan? Dalam transisi menuju UIN, risiko terbesar adalah hilangnya ruh keikhlasan yang menjadi ciri khas pesantren dan madrasah awal pendiriannya. Ketika tata kelola menjadi lebih birokratis dan berorientasi pada ranking akreditasi, jangan sampai barakah ilmu—energi spiritual yang membuat ilmu itu bermanfaat—mengering. UIN harus tetap menjadi “rumah peradaban” seperti klaim penulis, bukan sekadar “pabrik gelar”.

Sebagai penutup, transformasi IAIN Ternate menjadi UIN Sultan Baabullah adalah momen historis yang indah. Namun, keindahan itu akan hampa jika tidak diisi dengan substansi pemikiran yang radikal dan mendalam. Kita tidak butuh UIN yang hanya bangga pada gedung megah dan jumlah prodi yang banyak. Kita butuh UIN yang mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan sulit zamannya: bagaimana menjadi muslim yang ilmiah, menjadi ilmuwan yang religius, dan menjadi warga negara yang kritis di tengah gempuran kapitalisme global.

Selamat atas usia ke-60. Semoga UIN Sultan Baabullah bukan sekadar berubah nama, tetapi benar-benar berubah jiwa. Semoga ia menjadi mercusuar yang cahayanya tidak hanya menerangi pelabuhan Sofifi, tetapi juga menembus kabut kebingungan peradaban modern.

Catatan Kritis:
Tanggapan ini tidak bermaksud merendahkan pencapaian IAIN Ternate, melainkan mengajak para pemangku kepentingan untuk tidak puas pada pencapaian administratif. Transformasi sejati terjadi di ruang-ruang pikiran, di mana dialog antara wahyu, akal, dan realitas sosial terus-menerus diperdebatkan dan direfleksikan.

Wallahu a’lam bis-shawaab

Bumi Arema, 28-08-2026

Penulis adalah putra Maluku Utara. Tinggal di Malang Jawa Timur