Proyek Puluhan Miliar Disia-siakan, BEM Unipas Kritik Kinerja Dispar Morotai

Hasan Baba, Ketua BEM Unipas Morotai

Morotai, Koridorindonesia.id– Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Pasifik (Unipas) Morotai
Berkomentar terkait bangunan Water Front City (WFC) zona II yang terbengkalai. Pihak BEM Unipas Morotai menilai bahwa hal ini merupakan kelalaian dari Dinas Pariwisata Pulau Morotai.

Pembangunan WFC sendiri merupakan proyek kolaborasi antara pemerintah pusat dengan Pemda Morotai. Selain itu, WFC adalah infrastruktur pendukung Morotai sebagai Kawasan Strategi Pariwisata Nasional (KSPN). Pembangunan yang pada mulanya bermaksud untuk memperindah kota sebagai pusat destinasi wisata, namun kini malah sebaliknya. Kondisi bangunan yang tak terurus membuat catatan negatif bagi Morotai sebagai pusat pariwisata.

“Kami Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Unipas melihat begitu banyak pembangunan terbengkalai seakan tidak terurus. Hal ini menjadi catatan Pemda kabupaten Pulau Morotai, dalam hal ini Dinas PUPR dan Dispar harus tuntas mengawal proyek tersebut. Sebab proyek tersebut memakan biaya yang begitu besar” ungkap Ketua Bem Unipas, Hasan Baba, Selasa (2/4).

Diketahui bahwa pembangunan Water Front City (WFC) cona II telah menghabiskan anggaran sebesar 21 miliyar rupiah yang dialokasikan melalui APBD Pemda Pulau Morotai tahun 2022. Sementara nilai proyek membengkak hingga hampir empat kali lipat jika dibandingkan dengan dana WFC zona I tahun 2018 lalu, yang hanya memakan APBD sebesar 6,5 miliar rupiah.

Total dana yang terbilang fantastis tersebut merulakan dana sharing APBD dan APBN atau kolaborasi antara Pemda Morotai dengan kementrian PUPR.

Dengan dana tersebut, seharusnya pembangunan tersebut sudah dinikmati hasilnya oleh masyarakat. Proyek yang telah digagas mulai tahun 2022 tersebut dinilai gagal ditindaklanjuti oleh dinas terkait, dalam hal ini adalah dinas PUPR Pulau Morotai.

“Pada faktanya bangunan tersebut rusak. Bangunan juga dikelilingi rerumputan yang menunjukkan bahwa bangunan tersebut tak terawat dengan baik. Selain itu ada persoalan lain yakni kendala air bersih” kata Hasan menjelaskan.

Pihaknya menilai bahwa pembangunan Water Front City (WFC) sebagai penunjang sektor wisata kurang diseriusi oleh Pemda dan Dinas Pariwisata Pulau Morotai. Hal ini berakibat pada kurangnya kunjungan wisatawan dan secara otomatis tidak mampu meningkatkan pendapatan daerah di sektor pariwisata.

“Sayang sekali, anggaran yang demikian besar hanya untuk disia-siakan. Padahal pembangunan WFC ini multiguna, namun hasilnya sekarang malah tidak berguna” kata Hasan menyayangkan langkah Dispar Morotai.

Oleh karena alasan itu, BEM Unipas secara tegas menyampaikan, jika Pemda Pulau Morotai dan dinas terkait tidak menindaklanjuti persoalan tersebut. BEM Unipas Morotai berjanji untuk melakukan demonstrasi agar Kejaksaan Negeri (Kejari) bisa menyelidiki proyek WFC tersebut. (Ahlit*)